Tidak Suka Kado Pasangan? Lakukan Ini!

Salah satu hal terindah dari relationship adalah menerima kado atau hadiah dari pasangan. Dari yang romantis seperti kejutan, candle light dinnergetaway berdua. Atau yang mahal seperti gadget super canggih. Atau yang lebih sederhana seperti tiket gratis, pakaian, atau kado buatan sendiri. Namun, bagaimana jadinya kalau kamu tidak suka kado pasangan? Masa iya kamu harus menolak pemberian dia terang-terangan?

Mungkin sulit menyembunyikan kekecewaanmu pada pasangan karena kado darinya tidak sesuai ekspektasi atau kebutuhanmu. Apa yang harus dilakukan jika kamu benci kado pasangan? Lakukan saja cara halus ini!

1. Tetap Terima Kado Pasangan Dengan Senyuman!

Close up of woman hands holding red gift box for special event
via Pexels

Walaupun kamu kesal, jangan marah-marah! Ingat, pasangan tulus memberikan kado ini untukmu. Tetap terima dengan senyuman. Ucapkan terima kasih padanya. Tersenyum dan berterimakasih dapat menahan kekecewaan dan kekesalan agar tidak meluap di depan pasangan. Ingat, kamu lakukan ini karena tidak ingin menyakiti pasangan.

2. Ekspresikan Dengan Cara Halus

pexels-photo-424517
via Pexels

Gunakan kata-kata ini agar tetap jujur tanpa harus menyakiti pasangan.

“Wow!”
“Kamu nggak usah repot-repot, sayang!”
“Ini beneran buat aku?”
“Kamu juga bisa pakai kadonya, nih!”
“Aku nggak nyangka kamu bakal kadoin aku ini.”

Ingat, gunakan kata-kata di atas dengan senyuman dan ucapan terima kasih seperti yang dibahas pada poin pertama. Jangan sampai terlontar kata-kata tidak mengenakkan hati.

3. Tanyakan Alasan Pasangan Memberi Kado Tersebut

SAMSUNG CSC
via Pexels

Kalau kamu sama sekali tidak paham alasan hadiah pemberian pasangan, tanyakan saja alasannya. Apalagi kalau kamu sama sekali tidak menemukan fungsi kado tersebut di kehidupan kamu sehari-hari. Tanyakan hal-hal seperti, “Menurut kamu, enaknya ditaruh di mana?” atau “Cocok nggak kalau aku bawa ke kantor?” atau “Kamu mau liat aku pakai ini waktu kencan?” atau “Kamu mau pakai juga, nggak? Kita share berdua aja, yuk!”

Semoga dengan ini pasangan akan memberikan penjelasan yang membuat kado darinya menjadi lebih berharga buatmu. Mungkin bagi dia kamu terlihat keren memakai kado pemberiannya. Mungkin dia ingin kamu lebih efisien atau praktis dengan pekerjaanmu. Kalau kamu masih belum bisa menemukan alasannya, ulangi lagi poin satu dan dua.

4. Dicoba Dulu Sekali Saja

pexels-photo-264591
via Pexels

Kado pasangan jangan langsung dibenci, dibuang, atau dijual terlebih dulu. Give it a chance. Mungkin gadget mahal dari pasangan ternyata punya fitur yang sangat berguna untuk membantu pekerjaan kamu. Mungkin boneka dari pasangan yang kamu benci ternyata sangat nyaman dan bisa dipeluk saat tidur. Kalau kamu sudah menemukan satu hal berguna dari kado tersebut, SEGERA BERITAHU PASANGAN.

Dengan begitu, pasangan tidak akan bertanya lagi soal kado pemberiannya di lain waktu. Dia beranggapan kamu suka dan menggunakan kado darinya sepanjang waktu.

5. Ingat Alasan Kamu Mencintai Pasangan

pexels-photo-307791
via Pexels

Kalau kamu kesal pasangan tidak pernah memberi kado romantis, mungkin karena pasangan orangnya praktis dan ingin membantu kamu agar lebih efisien?

Kalau kamu benci kado pasangan selalu membosankan, mungkin karena pasangan sudah merasa utuh bersama kamu?

Terus gali lagi alasan kenapa pasangan memberi kado seperti itu. Apa pun kado darinya, ingat, dia memberinya karena dia mencintai kamu dan ingin kamu lebih bahagia. Kalau kamu masih belum menemukan alasannya, ulangi saja poin 1-4 sampai dia lupa dia pernah memberi kado itu untuk kamu.

Relationship is all about effort. Kado pasangan adalah salah satu cerminan usaha darinya untuk membahagiakan kamu dan menambah kualitas hubungan. Kamu boleh benci kadonya, tetapi jangan sampai kamu membenci pasangan karenanya!

Artikel ini terbit di Kelas Cinta pada 31 Agustus 2018

Kok Rasanya Masih Kesepian Walaupun Punya Pasangan?

Banyak orang terburu-buru mencari pasangan untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya. Mereka yakin jika sudah punya pasangan, mereka akan selalu bahagia dan tidak akan kesepian lagi seumur hidup. Tapi sedihnya, anggapan tersebut salah besar; karena realitanya memiliki pasangan tidak akan mengatasi rasa kesepian.

Kalau mencari pasangan karena kesepian, Anda akan menuntut pasangan untuk selalu membahagiakan Anda. Kalau pasangan menolak, Anda pasti bilang: “Sebagai pasangan, harusnya kamu bahagiakan aku, dong. Kamu harus selalu ada buat aku.” Dengan anggapan seperti itu, cepat atau lambat hubungan akan putus/cerai.

Memiliki pasangan memang menambah kebahagiaan, tetapi tidak akan bisa mengatasi rasa kesepian atau mengisi kekosongan diri. Jika Anda sudah punya pasangan tapi masih merasa kesepian, berarti ada masalah yang tersembunyi dalam hubungan yang harus segera diselesaikan.

Orang Yang Sudah Berpasangan Justru Lebih Gampang Kesepian

Dalam sebuah survey di Amerika Serikat yang diadakan tahun 2018 oleh Cigna pada 20 ribu orang, ternyata 50 persen pasangan selalu merasa kesepian atau diabaikan. Lebih dari 40 persen menganggap hubungan mereka sudah tidak menyenangkan lagi.

Tidak cuma itu, ada juga penelitian dari Pew Research Center yang mengungkapkan 1 dari 10 masyarakat Amerika Serikat yang sudah berkeluarga merasa kesepian.

Itulah akibat yang Anda rasakan bila mencari pasangan untuk mengisi kekosongan dalam diri. Pasangan tidak akan pernah bisa mengatasi kekosongan tersebut. Bahkan bagi pasangan yang bahagia pun, pasti ada saatnya mereka merasakan adanya jarak dalam hubungan atau menganggap pasangan sudah tidak seperti dulu lagi. Itu yang membuat mereka mulai merasa kesepian.

Selain itu, pasangan juga lebih mudah merasa kesepian jika ada suatu masalah terpendam. Jika tidak segera diselesaikan, masalah itu akan jadi beban konflik yang menumpuk, lalu akhirnya akan menjauhkan Anda dan pasangan.

Jessica Small, LMFT, seorang relationship coach dan penasehat pernikahan menyebutkan salah satu terbentuknya jarak adalah kurangnya momen-momen intim yang dulu sering dilakukan di awal hubungan, tetapi sekarang sudah tidak lagi dilakukan. Misalnya: tidak ada lagi peluk dan cium setiap pagi atau sebelum tidur, jadwal kencan setiap minggu berkurang, dan lain sebagainya. Makanya, banyak pasangan yang mengeluh kesepian karena pasangannya sudah berubah tidak seperti dulu lagi.

Jika Anda merasa kesepian, biasanya Anda punya 4 masalah ini:

1. Anda dan Pasangan Memiliki Masalah Komunikasi

Tony Gaskins berkata, “Communication to a relationship is like oxygen to life. Without it, it dies.” Artinya, kalau Anda merasa kesepian meskipun sudah punya pasangan, bisa jadi kalian punya masalah komunikasi. Masalah komunikasi bisa terjadi kalau kalian jarang atau nyaris tidak pernah ngobrol atau kalian belum tahu cara komunikasi yang tepat.

Pasangan adalah salah satu orang terdekat dalam hidup Anda, sehingga Anda akan mudah merasa kesepian kalau dia tidak tahu apa yang sedang Anda rasakan. Namun, bagaimana caranya pasangan tahu Anda sedang kesepian jika tidak diceritakan secara langsung?

Kurangnya atau masalah komunikasi harus segera Anda bicarakan pada pasangan. Selalu sempatkan waktu yang untuk ngobrol dengan pasangan dan mengungkapkan perasaan satu sama lain.

Don’t assume your partner knows about everything you expect in a relationship. Let them know. A relationship should be based on communication, not on assumption.

2. Lupa Menyempatkan Waktu Untuk Berkomunikasi Saat Quality Time

Apa yang Anda bayangkan saat quality time dengan pasangan? Biasanya yang ingin kalian lakukan adalah jalan bareng, makan malam romantis, nonton film, liburan, atau apa pun yang penting kalian bisa bersenang-senang. Hal ini tidak salah untuk dilakukan, tetapi sayangnya, kalian jadi lupa meluangkan waktu buat ngobrol intim berdua.

Amy McManus, seorang terapis pernikahan dan keluarga, menyebutkan jangan sampai Anda dan pasangan lupa berkomunikasi karena terlalu sibuk bersenang-senang. Bersenang-senang dengan pasangan memang penting supaya hubungan tidak mudah jenuh. Namun, jangan sampai Anda dan pasangan melupakan komunikasi.

Sama halnya jika Anda dan pasangan sama-sama sibuk bekerja. Banyak pasangan yang malas ngobrol setelah seharian bekerja dengan alasan terlalu capek dan tidak ada waktu. Sesampainya di rumah, mereka malah sibuk dengan kegiatan masing-masing, tidak ada sesi curhat atau mengobrol. Akibatnya, mereka jadi tidak tahu keadaan diri satu sama lain dan perlahan menjauh.

Kalau Anda serius menganggap hubungan kalian berharga, Anda harus mau dan siap meluangkan waktu untuk menyampaikan isi hati Anda ke pasangan dan sebaliknya. Komunikasi yang lancar menciptakan keterbukaan di antara pasangan, sehingga konflik apa pun yang kalian hadapi bisa diatasi dengan mudah.

3. Anda Enggan atau Takut Membuka Diri Pada Pasangan

Salah satu penyebab masalah komunikasi adalah salah satu pihak enggan membuka diri. Pernah tidak, Anda enggan membicarakan suatu topik dengan pasangan karena Anda pikir, “Kasihan dia lagi capek kerja, mending nggak usah diomongin,” atau “Buat apa sih diomongin, nggak penting banget topiknya,” atau “Nanti kalau diomongin, dia bakal marah terus kita bertengkar”?

Sikap-sikap seperti itu yang justru membuat Anda makin kesepian dan menjauh dari pasangan. Anda dan pasangan seharusnya bisa membicarakan apa pun, baik hal positif atau negatif. Aneh sekali kalau Anda sering merasa tidak nyaman mengungkapkan isi pikiran Anda dengan pasangan, karena pasangan semestinya adalah orang yang paling bisa Anda percaya. Tandanya ada suatu masalah pada diri Anda atau pada hubungan yang menghalangi kalian untuk berkomunikasi.

Kalau sudah tahu penyebab enggan berkomunikasi, beranikan diri untuk bicara dengan pasangan. Contohnya, “Selama ini aku takut obrolin masalah keuangan sama kamu. Yuk, kita omongin sekarang.” Dengan begitu, kamu dan pasangan akan lebih mudah mengeluarkan uneg-uneg dan kekhawatiran yang selama ini terpendam.

4. Anda Kurang Memperhatikan Diri Sendiri

Terkadang Anda kesepian bukan karena pasangan, melainkan karena diri Anda sendiri.

Seseorang mudah merasa kesepian kalau dia lupa memperhatikan diri sendiri dan memenuhi kebutuhan dirinya, sehingga dia mencari-cari perhatian dari pasangan. Kalau Anda terus-terusan seperti ini, Anda akan berubah jadi pasangan clingy yang membebani pasangan. Supaya tidak menjadi seperti itu, belajarlah untuk menghadapi kesendirian Anda.

Menurut Niloo Dardashti, seorang psikolog dari New York, cara mengatasi rasa kesepian adalah dengan meluangkan waktu sendiri. Mungkin Anda perlu melakukan self-care dengan luangkan waktu sendiri untuk membantu Anda menikmati kesendirian. Luangkan waktu sendiri untuk cari kesibukan baru, lakukan meditasi, atau manjakan diri. Setelah Anda nyaman dengan kesendirian itu, Anda tidak akan mudah takut kesepian.

Namun, jika rasa kesepian itu sudah berlarut-larut, pertimbangkan untuk konsultasi ke ahli seperti psikolog atau psikiater. Bisa jadi itu adalah salah satu gejala depresi yang harus segera Anda atasi.

Komunikasi adalah salah satu pondasi utama dalam hubungan. Jadi tidak heran kalau Anda semakin gampang merasa kesepian setelah punya pasangan karena komunikasinya tidak lancar. Kalau sudah berpasangan, berarti Anda harus sadar komunikasi butuh usaha dari Anda dan pasangan. Jangan jadikan kesibukan, capek, malas, dan asumsi pasangan pasti sudah tahu apa yang Anda rasakan sebagai alasan untuk tidak berkomunikasi.

Para ahli menyarankan, sempatkan waktu untuk lakukan pillow talk dengan pasangan setelah sibuk beraktivitas dan mengurus keluarga. Pillow talk adalah ngobrol berdua di kasur sebelum tidur sambil berpelukan. Mengobrol seperti ini tidak perlu bertatap mata sehingga Anda akan lebih nyaman untuk terbuka dengan pasangan. Kalau Anda tidak sempat melakukan pillow talk, lakukan obrolan pada lain waktu. Misalnya, ngobrol sambil makan malam berdua tanpa gangguan apa pun atau ngobrol di mobil saat sedang jalan-jalan. Sambil mengobrol, kalian bisa sambil berpegangan tangan atau berpelukan, karena sentuhan fisik dapat meningkatkan rasa intim dan kasih sayang saat sedang mengobrol.

Dengan pasangan, tidak ada topik yang tidak penting untuk dibicarakan. Kalian bisa bicarakan apa pun seperti kejadian hari ini, apa yang kalian suka dari satu sama lain, impian dan harapan masing-masing di masa depan, hal-hal baru yang ingin kalian coba, mengingat momen-momen di masa lalu, membicarakan ketakutan satu sama lain, memuji kelebihan pasangan, dan masih banyak lagi. Kalau Anda bisa membagikan semua itu dengan pasangan, Anda tidak akan merasa kesepian lagi dalam hubungan.

Jangan pikir dengan punya pasangan rasa kesepian otomatis bakal hilang. Menghilangkan rasa kesepian bukanlah tanggung jawab pasangan. Kesepian tidak akan benar-benar hilang sampai Anda mau melakukan solusinya sendiri dengan selalu merawat diri dan memelihara komunikasi dengan pasangan.

Referensi:
[1] Why You’re Feeling Lonely In Your Relationship (& What To Do About It)
[2] Americans Unhappy with Family, Social or Financial Life are More Likely to Say They Feel Lonely
[3] Feeling Lonely in Your Relationship? Here’s What to Do About It
[4] How to Up Your Relationship Intimacy with Pillow Talk

Artikel ini terbit di Kelas Cinta pada 4 Februari 2020

Jodoh Bukan Takdir! Ini Strategi Cari Pasangan yang Realistis

Sekarang sudah tahun 2020, tapi masih ada saja yang percaya cerita-cerita jodoh adalah takdir dan cinta sejati dari kisah dongeng. Belum lagi dengan kehadiran novel-novel romansa, puisi-puisi dari penyair dan pujangga, dan konten relationship goals yang menjamur di media sosial membuat orang semakin percaya dan ngebet ingin bertemu jodohnya yang sudah ditakdirkan atau the one.

Buat mereka jodoh adalah takdir yang tidak bisa ditawar. Mereka yakin kalau sudah ketemu jodohnya, hubungan mereka pasti terjamin mulus dan romantis seumur hidup. Dulu, saya salah satu orang yang percaya dengan konsep takdir jodoh seperti itu. Akan tetapi, keyakinan saya tersebut malah jadi bumerang ketika patah hati karena orang yang saya anggap jodoh saya, malah mencampakkan saya.

Akibatnya, patah hati saya jadi 10 kali lipat lebih sakit rasanya. Saya mengalami depresi, menangis hampir setiap hari, dan menanti-nanti mantan menyesal dan kembali lagi pada saya. Lagipula, jodoh pasti tidak akan kemana-mana atau tertukar, bukan? Ternyata saya salah besar. Saya sampai kehilangan harapan. Saya yakin tidak ada orang lain yang bakal cocok dengan saya. Apa artinya saya ditakdirkan untuk tidak punya jodoh? Buat apa saya hidup kalau kehilangan jodoh saya?

Terlalu Percaya Jodoh Justru Lebih Sering Putus dan Patah Hati

Secara matematis, sudah terbukti mencari jodoh itu mustahil. Menurut Randall Munroe, penulis buku What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions kemungkinan Anda bisa bertemu jodoh Anda hanyalah satu kehidupan dari 10 ribu kehidupan! Itu pun baru terwujud apabila Anda menghabiskan seluruh hidup Anda mencari jodoh. Munroe juga menambahkan, realitanya banyak orang yang tidak punya waktu untuk mencari jodoh—hanya sebagian kecil yang mampu melakukannya.

Munroe menyimpulkan, karena tekanan mencari jodoh sangat berat, sebagian orang jadinya merasa kesepian lalu asal pilih pasangan. Mereka buru-buru menikah, menyembunyikan semua masalah hubungan, dan pura-pura bahagia di depan orang lain.

Menurut penuturan lain dari seorang ahli matematika, Hannah Fry, di dalam bukunya berjudul The Mathematics of Love: Patterns, Proofs, and the Search for the Ultimate Equation memberikan perhitungan mencari jodoh: jika Anda pacaran dengan 10 orang, Anda baru bisa bertemu jodoh Anda setelah putus dengan empat dari mereka (39,87 persen). Jika pacaran dengan 20 orang, maka Anda harus putus dengan delapan orang (38,42 persen). Jika jumlah orang yang Anda pacari tak terhingga, maka Anda harus menolak 37 persen dari mereka, sehingga kesempatan Anda untuk sukses hanya 1 dari 3 orang.

Kecil sekali kemungkinannya, bukan? Itu pun kalau Anda mau berkencan dengan banyak orang. Bagaimana dengan Anda yang hanya cuma bisa berpangkutangan dan berdoa agar takdir mendatangkan jodoh Anda dengan sendirinya?

Sedihnya, masih banyak orang yang belum menyadari dan percaya dengan konsep jodoh. Menurut survey dari Monmouth University, dua dari tiga masyarakat Amerika Serikat masih percaya dengan jodoh. Berdasarkan data tersebut, profesor psikologi Gary W. Lewandowski Jr., mengatakan bahwa konsep jodoh bisa membahayakan hubungan. Ketika seseorang percaya jodoh adalah takdir, berarti dia menganggap pasangannya pasti sempurna—padahal kesempurnaan sangat mustahil didapatkan dalam hubungan asmara.

“Jika Anda percaya hubungan sukses adalah hasil dari jodoh, Anda akan cenderung malas menyelesaikan masalah hubungan karena Anda pikir pasangan harusnya sempurna dan hubungan seharusnya selalu lancar,” begitu kata Lewandowski.

Kalau Anda masih percaya pasangan adalah jodoh yang ditakdirkan untuk Anda, maka Anda akan menyalahkan pasangan jika terjadi masalah. Anda akan mengkritik pasangan jika dia melakukan kesalahan. Anda akan menuntut pasangan untuk berubah demi Anda. Akibatnya, Anda akan langsung meninggalkan hubungan dan mencari orang lain yang Anda anggap sempurna. Padahal kesempurnaan tersebut hanya ekspektasi yang membutakan Anda untuk menjalani hubungan secara realistis dan sehat.

Hal serupa juga diungkapkan Ramani Durvasula, psikolog dari California, Amerika Serikat. Menurutnya, percaya dengan jodoh bakal bikin Anda cenderung mencari pasangan untuk mengisi kekosongan, bukan untuk menambah kebahagiaan.

Padahal tanpa ekspektasi dan hasrat mengisi kekosongan, Anda justru akan berkembang bersama pasangan ke arah yang lebih baik. Kalian akan belajar caranya membangun hubungan yang lebih sehat, dekat, dan romantis.

Faktanya, Kemungkinan Menemukan Jodoh Sesuai Takdir Itu Mustahil

Secara matematis, sudah terbukti mencari jodoh itu mustahil. Menurut Randall Munroe, penulis buku What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions kemungkinan Anda bisa bertemu jodoh Anda hanyalah satu kehidupan dari 10 ribu kehidupan! Itu pun baru terwujud apabila Anda menghabiskan seluruh hidup Anda mencari jodoh. Munroe juga menambahkan, realitanya banyak orang yang tidak punya waktu untuk mencari jodoh—hanya sebagian kecil yang mampu melakukannya.

Munroe menyimpulkan, karena tekanan mencari jodoh sangat berat, sebagian orang jadinya merasa kesepian lalu asal pilih pasangan. Mereka buru-buru menikah, menyembunyikan semua masalah hubungan, dan pura-pura bahagia di depan orang lain.

Menurut penuturan lain dari seorang ahli matematika, Hannah Fry, di dalam bukunya berjudul The Mathematics of Love: Patterns, Proofs, and the Search for the Ultimate Equation memberikan perhitungan mencari jodoh: jika Anda pacaran dengan 10 orang, Anda baru bisa bertemu jodoh Anda setelah putus dengan empat dari mereka (39,87 persen). Jika pacaran dengan 20 orang, maka Anda harus putus dengan delapan orang (38,42 persen). Jika jumlah orang yang Anda pacari tak terhingga, maka Anda harus menolak 37 persen dari mereka, sehingga kesempatan Anda untuk sukses hanya 1 dari 3 orang.

Kecil sekali kemungkinannya, bukan? Itu pun kalau Anda mau berkencan dengan banyak orang. Bagaimana dengan Anda yang hanya cuma bisa berpangkutangan dan berdoa agar takdir mendatangkan jodoh Anda dengan sendirinya?

Jodoh dan Takdir Tidak Menentukan Kesuksesan Hubungan Anda

Berdasarkan studi dari University of Washington, jika pasangan yang memandang hubungan sebagai ruang untuk berkembang justru akan lebih bahagia. Mereka menganggap konflik sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan satu sama lain. Hal ini berbeda dengan orang yang percaya dengan jodoh. Ketika menghadapi konflik, konflik tersebut justru dianggap sebagai tanda pasangan mereka bukanlah jodoh yang ditakdirkan untuk mereka.

Jadi, semua pasangan pasti akan menemui konflik. Namun, berbeda dengan pasangan yang terlalu percaya dengan takdir, pasangan yang realistis justru akan menghadapi konflik tersebut dengan sehat. Mereka memberikan ruang terbuka untuk mengungkapkan perasaan dan keinginan satu sama lain demi memperbaiki konflik. Mereka tidak menahan uneg-uneg karena mereka tahu hubungan mereka tidak sempurna, sehingga mereka akan terus berusaha demi satu sama lain.

Meski begitu, terlalu meyakini hubungan sebagai usaha bisa berdampak buruk juga. Pasangan harus memberikan usaha yang seimbang dalam hubungan. Namun, jika hanya satu pihak yang berusaha, maka hubungan tersebut akan gagal. Jika Anda berada di dalam hubungan abusif, Anda hanya buang-buang waktu jika ingin berusaha memperbaikinya.

Apa yang harus Anda lakukan? Fry menambahkan dalam bukunya, “It’s a fine balance between having the patience to wait for the right person and the foresight to cash in before all the good ones are taken.

Artinya, silakan saja Anda percaya dengan jodoh, tetapi jodoh bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Jodoh Anda adalah orang yang tepat menurut standar Anda sendiri, bukan dari takdir. Setelah bertemu orang yang tepat pun, Anda tetap harus berusaha membangun hubungan yang sehat dan sudah pasti akan ada konflik yang harus dihadapi.

Jadi, bagaimana caranya mencari jodoh yang realistis? Bagaimana Anda bisa tahu si dia orang yang tepat untuk Anda? Para ahli menyarankan beberapa cara ini untuk Anda:

1.    Membuat daftar kriteria pasangan ideal Anda

Tulislah kualitas-kualitas yang Anda inginkan dari pasangan Anda sespesifik dan sedetil mungkin. Misalnya, Anda ingin pasangan yang baik. Semua orang tentu ingin punya pasangan yang baik. Namun, definisi baik bagi Anda berbeda mungkin daripada orang lain.

Contoh: orang yang sepemikiran dengan Anda saat mengobrol, sama-sama menunjukkan kasih sayang dengan sentuhan fisik seperti Anda, dan mampu menerima kekurangan tertentu pada diri Anda. Kemudian, tambahkan kualitas-kualitas umum seperti agama, suku, pekerjaan, dan lain sebagainya sesuai yang Anda inginkan. Lalu, saat Anda bertemu dengan beberapa gebetan, Anda tinggal menyeleksi mereka sesuai dengan kriteria yang Anda buat.

Menulis kriteria seperti ini akan membantu Anda mengeksplor diri sendiri. Hasilnya, Anda tidak akan asal-asalan memilih pasangan. Pasangan yang Anda miliki akan lebih kompatibel dengan Anda, karena dia memiliki kriteria pasangan yang Anda inginkan.

2.    Sayangi diri sendiri dulu

Para ahli berkata, hubungan yang sehat berawal dari Anda menyayangi diri sendiri. Jangan sampai Anda mencari pasangan demi mengisi kekosongan karena takut tidak dapat jodoh. Sambil mencari jodoh, luangkan waktu Anda untuk meningkatkan kualitas diri—baik meningkatkan kualitas karir, kepribadian, dan kehidupan Anda. Anda harus bisa membahagiakan diri sendiri sebelum bertemu jodoh Anda.

Ketika yakin telah kehilangan jodoh, saya berusaha menyayangi diri sendiri dengan move on dari mantan. Saya menghabiskan waktu dengan menulis novel dan membuat tugas akhir agar lulus kuliah. Kemudian, saya membaca lalu mempraktekkan artikel dan buku-buku dari Kelas Cinta, mengikuti kelas Lovable Lady, mendekatkan diri dengan teman-teman yang lebih berkualitas, kenalan dengan banyak gebetan yang keren, dan lain sebagainya.

Dengan melakukan semua itu, saya jadi bisa membuat kriteria pasangan yang tepat untuk saya. Selang dua tahun, saya jadian dengan salah satu gebetan yang benar-benar sesuai dengan kriteria yang saya buat. Pada akhirnya, dia menjadi suami saya sekarang.

Ternyata apa yang saya pikirkan dulu salah. Saya memang bisa menemukan orang yang tepat untuk saya, tetapi saya tidak bisa berpangkutangan menunggu dia datang. Saya harus move on, tingkatkan kualitas diri dulu, baru saya bisa bertemu dengannya.

3.    Amati hubungan-hubungan di sekitar Anda

Jangan terlalu sibuk lihat-lihat postingan relationship goals di media sosial, karena Anda bisa membuat ekspektasi hubungan yang tidak realistis. Lebih baik amati hubungan-hubungan orang terdekat Anda seperti hubungan orangtua atau sahabat dengan pasangannya. Dengan begitu, Anda akan dapat pandangan yang lebih realistis soal hubungan asmara. Amati cara mereka berinteraksi di depan Anda, dengarkan cerita-cerita mereka kepada Anda, dan lain sebagainya. Dari mereka, Anda akan tahu sisi positif yang Anda kagumi dan sisi negatif yang Anda benci dari hubungan mereka.

Apabila memungkinkan, coba minta tips hubungan yang sukses dari mereka. Jika tips dari mereka cocok untuk Anda, Anda bisa praktekkan saat sudah punya pasangan. Kalau mereka baru saja putus atau cerai, tanyakan apa yang bisa membuat mereka berpisah. Sebab mereka berpisah bisa Anda jadikan pelajaran untuk hubungan Anda sendiri di masa depan.

Setelah menikah pun, saya masih melakukan hal ini dengan suami saya. Ketika saya melihat teman melakukan hal positif dengan pasangannya, saya sampaikan pada suami agar kami juga bisa melakukannya. Saat bertengkar, saya tegaskan pada suami bahwa saya tidak suka dibentak karena itu membuat saya sedih.

Jangan anggap jodoh adalah takdir Anda yang harus ditunggu atau didoakan. Jodoh tetap harus dicari dan diusahakan dengan tingkatkan terus kualitas diri dan standar Anda dalam mencari pasangan. Anda harus selalu bersikap realistis, karena tidak ada hubungan yang selalu mulus dan sukses dengan sendirinya.

Referensi:
[1] Why You Should Stop Trying to Find Your Soulmate—And What to Do Instead
[2] Most Want a Partner Like Them
[3] The Science of Soulmates
[4] Implicit Theories of Relationships: Assessment and Prediction of Romantic Relationship Initiation, Coping, and Longevity
[5] The Case Against ‘Soul Mates’
[6] The Actual Algebra of Finding Your Soul Mate
[7] What Mathematics Reveals About the Secret of Lasting Relationships and the Myth of Compromise

Artikel ini terbit di Kelas Cinta pada 1 Oktober 2019

Being Mature

On the day my father died,
I wasn’t sad
Or thinking about how my life would be after his passing
I thought, “This time, I have to be mature.”

What does it mean?
How’s it different than growing up?

Being mature means
I’m not just a daughter anymore
I’m now a partner to my mother
Sharing my income
Thinking about how my decision could affect my family
Realized that now I live not only for myself

Being mature means
My brother is starting to resent the fact
that I constantly nag him to study
Because as the big sister
I now have the responsibility to guide him like a parent should

Being mature means
Constantly take rain-checks to my date plans
I can’t go to social events all the time
Hoping they’d understand
I refrain from shopping
Knowing that I can’t spend my money as much as I want
Every cent I have counted so I can eat tomorrow

Being mature means
Secretly hoping someone, anyone, will accept the fact
That I can’t be loving and understanding all the time
I have to give tough love and make tough decisions
Because if I don’t do it, who will?

Being mature means
I repress my feelings and put on a happy face
If they know I’m not okay, then my family will crumble
I have to be a warrior who silently bleeds as I fight against my adversaries

Fictional Characters I’m Painfully Relate to: Dean Winchester (Supernatural)

I think anyone who’s the eldest sibling in their family can relate to the great Dean Winchester from Supernatural. Not only is he incredible and the best hunter in the world, but he’s also protective of his family, especially his brother, Sam.

Throughout the series, Dean has taught me some awfully relatable things in my life.

Dean Taught Me to be My Awesome Self All The Time, Even When the World Tells Me Otherwise

Even when there’s the apocalypse, monsters invading the world, annoying demons, and unbearable angels, Dean still stands and is adorable at all times. Eating pies, flirting with women, fixing stuff, smashing monsters and demons (sometimes angels) here and there. He’s kinda a nerd, too. He keeps mentioning pop culture references all the time (i.e., Jefferson Starship, Die Hard, Star Wars, not to mention Harry Potter)

His car, Baby, is part of him and is something he loves. Dean taught me to appreciate who I am and what I have, even if I don’t have much in my life.

Dean also has a hard time dealing with his own feelings (just like I do), but he’s always expressive in telling others what he wants. He always knows what he’s doing when he’s hunting monsters. He never hesitates to kill them to save other people, yet he can be wise enough not to kill when the monsters are innocent or useful to gain information.

Despite all his imperfections, Dean always stays true to himself. I think, in some ways, he’s a good man and an optimist. Even the monsters, demons, and even angels are often against him. I believe Death himself kind of favored him because of his true nature.

Dean Taught Me To Always Stand Up, Even Though He Got Tossed and Beaten Around

This man has returned to earth after 40 years of perdition and torture in Hell. This is the man who was there for Sam, so he wouldn’t be facing his death alone. This is the man who returned from Purgatory alive and still kicking ass. This is also the man who keeps protecting his brother when their father is so awfully hard on them.

Sometimes, he can’t see his worth because he took the blows as hard as he fought. But he always stands up, willing to sacrifice himself so others won’t have to suffer. Sometimes, he can be selfish, too, such as when he sold himself to the demons to resurrect Sam from death and ditched Castiel so he wouldn’t notice Gadriel possessed Sam to cure him.

His toughness, willfulness, and humanity impressed Castiel to the point that he betrayed his own kind for him. The episode when he got beaten up by Lucifer in season 5 made me cry. Not to mention, he did so much for his brother when they were little, from stealing food to putting much effort into making a good Christmas for him and protecting him from monsters.

Dean Taught Me Just Because Life Sucks So Hard, Doesn’t Mean You Can’t Enjoy the Ride

You tend to enjoy every little thing when you have a rough childhood. Dean found his joy in pies and porn. He lives in the moment and tries to enjoy good situations since he and his brothers don’t get them so much. Those are valuable things to be learned for me, who often whines, complains, and barely lives in the moment.

He enjoys pies and junk foods like me. He never denies pleasure when it’s given to him. He’s never a douche when some women reject him. He got along with Charlie Bradbury because they both have the same interest in pop culture. He’s the one who’s also taught Castiel to enjoy and understand human life.

During hard times, I look up to Dean Winchester. If he can find good things in his life, so can I.

Dean Taught Me Families Aren’t Always Sunshine and Rainbows, and I Still Love Them Anyway

When you have a brother who’s as stubborn as you are, things will get rough sometimes. That’s a simple way to describe the Winchester brothers’ relationship. Sam ran away to get a life on his own, and Dean took the beatings for him when John, their dad, found out. There’s also Dean’s disappointment towards Sam’s association with Ruby, the demon.

But he’s also there for Sam when he’s about to sacrifice himself to prevent the apocalypse. He’s also helped Castiel whenever he’s in trouble. His grief towards Bobby’s death was so deep he could barely see things clearly when Bobby turned into a ghost. He considers Charlie to be the little sister he never wanted.

Supernatural taught me that families won’t always bring joy to your life. They often annoy you, give you hard times, and sometimes steal your food. But you gotta love them and protect them. They’re the ones who will always be there for you when you have no one. Family doesn’t have to be blood, but you must cherish them and do anything for them.

Dean’s love for his family got him in trouble many times, but he wouldn’t hesitate to do it again and again for them.

To me, who sometimes has a hard time dealing with my own family, especially after my dad died, Dean has taught me a valuable lesson about family. I firmly believe that each family has its own demons. And sometimes, we must stand up for our families in hard times and stand up to them when they make mistakes.

Image credits: Giphy; Google

Kesempurnaan dalam Menulis

Nggak ada tulisan yang sempurna. Buku yang kamu suka pasti ada bagian yang kamu kritik. Nggak masalah. Tetaplah menulis. Kamu seorang penulis, bukan editor. Maka dari itu, kamu menulis, bukan mengoreksi kesalahan. Ada waktunya sendiri untuk memperbaiki kesalahan pada tulisan kamu.

Coba ingat-ingat tulisan orang lain yang kamu nggak suka. Tulisan yang bikin kamu kepikiran, “Kok bisa sih tulisan kayak gini bisa populer?” Itu karena penulisnya lebih percaya diri dan SELESAIIN tulisannya. Makanya, SELESAIIN dulu tulisan kamu. Urusan menyunting, mengkritik, dan tetek bengeknya itu belakangan. Pokoknya selesaiin, selesaiin, selesaiin!